Warta

Tak Main_Oleh: Mashuri Toha_Wakil Ketua Majelis Alumni IPNU Pamekasan

(Nb)27 juni 2022 Beberapa hari yang lalu, saya hadir di pelantikan pengurus baru IPNU-IPPNU Cabang Pamekasan di gedung Primajaya Tlanakan, gedung itu milik pengusaha; pak Rudi, cukup representatif, hall-nya luas, tersedia fasilitas dekorasi, manajemen lingkungan tertata indah. Tempatnya mudah dijangkau. Gedung ini bisa bersaing dengan persewaan gedung yang lain. Gedung milik pemerintah sudah ‘tak main’.

KH. Hamid Zubair yang duduk di sebelah saya, berbisik di telinga saya, “kapan NU bisa punya gedung seperti ini?”, Pertanyaan yang menggoda, ekspektasi yang tinggi. Ya, setidaknya sudah punya mimpi. Tetapi, harapan memiliki gedung itu bukan tanpa alasan. Karena NU memiliki banyak badan otonom dan lembaga. Beberapa organ di tubuh NU ber-organisme, bergerak aktif, dinamika yang membutuhkan ruang untuk mengelola massa. Karena NU tidak hanya hebat di depan massa, tetapi sudah harus hebat di masa depan.

Agar hebat di masa depan, NU butuh meramut dan merumat jamaah. Pola paguyuban di NU dipandang sebagai potensi. Maka bisnis persewaan gedung dapat dilirik sebagai peluang ekonomi dan dakwah. Dan kemampuan melihat jumlah nahdhiyyin sebagai kekuatan terus diasah. Gedung pertemuan menjadi media yang efektif untuk menyapa jamaah dalam banyak kepentingan.

Gedung yang representatif dipilih untuk membangkitkan kebanggaan pada organisasi. Karena gedung yang luas bisa puas mengekspresikan segala potensi untuk pentas sejuta aksi. Ego mereka berada pada “aku ini siapa, siapa aku, ini aku dan aku ini milik siapa”. Generasi kita harus diberi panggung.

Saya lihat adik-adik kita sudah mampu mereposisi di kelas Jawa Timur, banyak yang mewarnai di kepengurusan PW. IPNU-IPPNU. Kita dukung star up dan scale up mereka. Karpet yang kita bentangkan akan mengantarkan pada penemuan jati diri yang mereka cari. “Mekar seribu, bunga di taman, mekar cintaku pada ikatan” sebagaimana mars kita lantunkan.

Tapi jangan tinggalkan self-marketing, ini lagi ramai dikonsumsi publik, konstruk yang baru-baru ini mulai marak di dunia industri 4.0. Self-marketing merupakan pemasaran mandiri yang membantu individu untuk dapat meningkatkan citra dan reputasi mereka untuk dapat memajukan karir mereka “tuk kejayaan masa depan”.

Bersamaan dengan fase egosentris. Selera generasi kita sudah tinggi, tentu tarifnya juga tinggi. Ya, amodel amodal. Itu menunjukkan tingginya tingkat pendidikan mereka. Pendidikan mempengaruhi selera, dan selera mempengaruhi pola konsumsi. Jika selera orang itu tinggi, maka konsumsi terhadap barang akan meningkat, dan sebaliknya apabila selera orang itu rendah maka konsumsi akan rendah.

Kita bangga pada generasi yang berstandar tinggi, hanya yang kita khawatirkan adalah selera tinggi daya pikat rendah. IPNU-IPPNU harus memiliki nilai tawar dari added value yang mereka bangun, proses pengkaderan melatih mereka peka terhadap situasi dan kebutuhan lingkungan kerja, mampu memanfaatkan peluang dan tantangan, serta mampu memberikan service excellent pada umat dan stakeholders. Untuk itu mereka harus diberi panggung.

Kemampuan NU dan kita, untuk meladeni proses aktualisasi diri mereka dan diikuti dengan kemampuan mereka untuk me-marketingi diri sendiri akan membuat distribusi kader; laku keras, berkelas di ‘pasar’ nasional. ‘Pasar’ lokal? Tak main

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

TERPOPULER

To Top