Warta

PR NU Desa Ambat Gelar Kajian Kitab At-tibyan

NAWABINTANG.COM/PAMEKASAN – Pengurus Ranting NU Desa Ambat menggelar kajian Lailatul Ijtima’ dan Kajian Kitab At-tibyan, sekaligus persiapan pelantikan, di kediaman Ustadz Mansur, Dusun Trasang, Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Madura. Rabu (24/3/2021).

Kajian Lailatul Ijtima’tersebut dihadiri , Seluruh Pengurus Ranting NU Ambat Beserta Ansor dan IPNU Desa Ambat.

Pembahasan yang mengulas tentang pengantar kitab At-tibyan, karangan KH. Syeh Muhammad Hasyim As’ary, disampaikan oleh KH. Holik Fandi sebagai Rois 2 Ranting NU Ambat.

Rois 2 Ranting NU Ambat, KH. Holik Fandi mengatakan, pengantar kitab At-tibyan, karangan KH. Syeh Muhammad Hasyim As’ary, yaitu menjelaskan mengenai sholawat dan salam kepada Baginda Nabi Muhammad Saw dan Nabi Muhammad Saw ini adalah perantara untuk menuju kepada Allah SWT.

“At-tibyan adalah karangannya rois akbar ulama’, Jam’iyah Nahdlatul Ulama’, Syeh Muhammad Hasyim Asy’ari. Beliau menyelesaikan 19 karangan kitab yang dijadikan satu yaitu At-tibyan, yang didalamnya menerangkan tentang betapa pentingnya silaturrahmi dan membangun pergaulan yang baik,” kata Rois 2 Ranting NU Ambat, KH. Holik Fandi.

Menurutnya, salah satu ciri khas masyarakat islami yaitu mengamalkan amal ma’ruf nahi mungkar dan watukminuna billahi atau pembangunan keimanan. Ada yang menonjol amal ma’rufnya saja seperti jama’ tabligh, yang mengajak masyarat langsung untuk beribadah kepada Allah.

“Karena mereka berpendapat, bahwa apabila kita lebih mengamalkan amal ma’ruf-nya, maka almungkarun akan hilang dengan sendirinya,” paparnya.

Selain itu, ada yang menonjol nahimungkar saja seperti ormas yang sering berteriak lafadz takbir dengan membubarkan tempat zina, minuman keras dan semacannya. “Karena mereka beranggapan apabila kita lebih mengamalkan amal am’rufnya ditakutkan nahimungkarnya akan naik,” jelasnya.

Lebih jauh, ia menuturkan, ada pula yang menonjol wetukminuna billahi atau pembangunan keimananannya. Jadi kalau sudah wetukminuna billahi tidak memandang amal ma’ruf nahi mungkar. “Pokoknya bagaimana orang yang mau beriman kepada Allah sama halnya seperti toriqoh,” tutur KH. Holik Fandi.

“Dan yang lebih baik itu adalah tetap ta’dim selalu menjaga eksistensi ilmu agar tetap mapan, sehingga dengan ilmu agama, amal ma’ruf dan nahimungkar serta keimananpun akan nampak dengan sendirinya,” tutupnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

TERPOPULER

To Top