Warta

Nyai Jangan Menyerah

Nyai, Jangan Menyerah
Oleh: Mashuri Toha
Wakil Ketua Majelis Alumni IPNU Pamekasan

Saya ingin menyampaikan selamat atas terpilihnya kembali kepada Nyai Hj. Mafrudah, di periode khidmah yang kedua, setelah dihelat melalui Konferensi Muslimat NU Pamekasan beberapa hari yang lalu. Selamat memimpin organisasi besar, dengan cita-cita yang tentu juga besar. Dari organisasi ini dilahirkan banyak pemimpin, manajer dan da’i-da’i perempuan yang akan memperluas kiprah Muslimat dalam mensejahterakan dan mencerdaskan kehidupan bangsa, saat ini dan di masa depan.

Muslimat NU merupakan organisasi perempuan yang memiliki otonomi untuk memberdayakan kaum perempuan Pamekasan. Dan NU sebagai induknya, memberikan kewenangan khusus untuk mengelola “dapur”; mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan potensi mereka di lingkungan NU.

Agenda besar yang sudah di depan mata, yaitu memastikan solusi bagi kesehatan kaum perempuan untuk keberlanjutan pemberdayaan di bidang pendidikan, dakwah dan ekonomi. Ada klinik Muslimat, koperasi An-Nisa’ dan TK Muslimat yang tersebar di mana-mana. Jika saja bisa fokus mengembangkan aset yang sudah ada ini, wah sudah hebat.

Kita roasting mulai dari; klinik Muslimat, aset esensial. Usaha klinik kesehatan ini masih tetap muncer, tidak masuk dalam daftar bisnis yang akan musnah dalam sepuluh tahun ke depan, masih prospek. Tetapi, mengapa klinik kita ini sulit untuk berkembang; ‘litbang’. Padahal, Sarpras dan SDM-nya sudah ada. Sarpras saja tidak cukup, itu hanya sebagai daya penunjang, yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa manpower, maka faktor pemungkin untuk berkemajuan adalah pada kinerja SDM.

Pada faktor SDM ini, mungkin saja ada variabel utama yang dilupakan, misalnya; lupa mensejahterakan karyawan. Karena, tidak mungkin karyawan menyerahkan seluruh kemampuannya, jika daya hidup mereka masih tersandera, antara kompetensi dan beban biaya sosial atau “tengka”. Biaya hidup orang sekarang semakin bertambah berat akibat mindset good looking dan iklan glowing yang muncul tak kenal waktu. Apalagi kalau ada anjuran, naik sepeda untuk memakai sepatu, akan semakin banyak daftar belanja kita.

Ada nilai investasi besar yang sudah dikerahkan, maka tidak perlu bahtsul masa il lagi antara keputusan pola bisnis atau sosial. Tidak perlu riskan untuk memandangnya sebagai korporasi. Daripada klinik Muslimat NU menjadi aset tidur. Investasi di awal memang harus”babak belur” karena membiayai SDM yang tidak pulang-pulang dari klinik, mereka bukan volunteer, walaupun Muslimat NU itu sendiri adalah lembaga sosial.

Tidak jadi masalah, walaupun NU memiliki isu strategis untuk mendirikan rumah sakit, justru akan semakin membangkitkan gairah pasar, membangun brand bahwa NU sudah maju di bidang kesehatan; punya klinik dan rumah sakit. Nahdliyyin punya pilihan, asalkan saja mampu mengelola kepuasan pasien dengan service excellent. Kalau sudah punya standar mutu, kita yakin setiap orang NU siap sukarela memasarkan. Seperti air NUSAQU, sampai kalah produksi.

Aset kedua, yaitu; koperasi An-Nisa’. Kalau Muslimat tidak kaya, itu berarti ada yang salah. Cara pandangnya adalah menjadikan seluruh wanita muslimah sebagai pasar syariah. Tetap lakukan sesuatu, inovasi. Walaupun pasar syariah kita sudah dikuasai oleh Cina. Cina sudah memproduksi apa saja yang menjadi kebutuhan muslim, mulai dari; busana muslimah, baju koko, sajadah hingga tasbih. Bahkan, lembaga keuangan syariah juga dibuka oleh mereka.

Pada ceruk pasar, kita masih punya peluang. Misalnya, membuat aplikasi IT, fitur bisnis yang melayani segala kebutuhan yang diminta oleh anggota, mulai dari; sandang, papan, pangan dan aksesoris hingga permodalan. Syaratnya menjadi anggota dan menunjukkan KartaNU. Membeli aplikasinya murah, di bawah seratus juta. Murah karena menjanjikan penciptaan pasar dan maximasi profit.

Kaum perempuan Indonesia suka arisan dan suka belanja. Kita lihat ada social protection need dalam budaya arisan. Tapi sayangnya, potensi ini sudah direbut oleh perusahaan simpan pinjam lain, dengan model tanggung renteng. Harusnya Muslimat NU tidak kalah. Kalau saja, setiap ranting punya arisan dan satu lotre disumbangkan pada Muslimat, wah, luar biasa. Muslimat menjadi fix marketplace yang bisa memanjakan pemenuhan ekonomi anggota dengan pendekatan arisan. Wau.

Aset ketiga; TK Muslimat. Jumlah lembaganya sudah banyak. Sudah waktunya TK Muslimat NU 01; menjadi rujukan pendidikan setidaknya se-Madura pada aspek; akreditasi lembaga, kualitas guru dan kurikulum yang diterapkan. Untuk itu, bisa menjadi plasma, konsultan bagi lembaga TK yang dinaungi. Banyaknya jumlah lembaga berjejaring kekuatan untuk tumbuh dan berkembang bersama. Dan penting dilihat sebagai aset yang melahirkan generasi masa depan NU yang tangguh, yang lebih banyak kesempatan untuk mengubah perjalanan umat manusia ke depan.

TK Muslimat ber benchmarking, tidak berkembang sendirian, potensinya dikerjasamakan dengan berbagai pihak, termasuk diantaranya bisa berkolaborasi dengan kampus UIM, menjadikan TK Muslimat NU sebagai laboratorium pengembangan instruksional dengan kemampuan leterasi yang lengkap. Membangun pusat pengembangan media pembelajaran untuk transformasi digital, agar anak-anak NU bisa melek teknologi sejak dini.

Wah, berat…

Jangan menyerah Nyai, anggap saja ini hanya roasting untuk menginspirasikan apa yang perlu kita lakukan ke depan. Kita tidak sendirian, diantara kita ada aku, dan aku adalah kita. Mari bersama running up dari posisi kita, menyongsong satu abad NU dengan tagline: Mendigdayakan NU, Menjemput Abad Kedua, Menuju Kebangkitan Baru. Selamat berkhidmat.


Pamekasan, 21 Juli 2022

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

TERPOPULER

To Top